Daily Archives: July 17, 2019

Faktor The Jak dan Viking tak Kunjung Berdamai

Perseteruan antara suporter fanatik Persib Bandung dan Persija Jakarta sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Saking panasnya hubungan kedua suporter tersebut, banyak pertandingan antara kedua tim yang terpaksa digelar tanpa penonton. Tentu perseteruan suporter yang seperti itu dapat menciptakan suasana liga yang tidak kondusif sehingga menghambat kemajuan sepak bola nasional.

Sebenarnya upaya perdamaian sempat dilakukan. The Jak dan Viking melakukan penandatanganan pernyataan damai kedua suporter. Namun, perjanjian tersebut seolah tidak ada artinya karena tidak lama kemudian kembali terjadi saling serang antara oknum suporter kedua klub tersebut. Lantas, sebenarnya apa yang membuat perseteruan kedua kubu tersebut tidak kunjung usai? Berikut ulasannya untuk Anda.


Faktor yang Membuat The Jak dan Viking Tidak Kunjung Berdamai :

1. Faktor Sejarah
Faktor pertama yang mendasari perseteruan kedua kubu suporter adalah sejarah. Viking yang lahir pada tahun 1993 menjadi kelompok suporter tim Maung Bandung terbesar di Indonesia. Empat tahun berikutnya, lahirlah suporter Persija Jakarta yang bernama The Jak. Setelah terbentuknya kelompok suporter tersebut, perseteruan dan persaingan antara kedua kelompok suporter mulai sering terjadi.
Salah satunya adalah pada saat kedua kubu suporter mengikuti ajang kuis Siapa Berani di salah satu stasiun TV swasta. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kelompok suporter klub Indonesia. Pada acara tersebut, Viking berhasil keluar menjadi juara. Namun, setelah acara tersebut, dilaporkan bahwa anggota Viking dihajar oleh suporter Persija. Setelah kejadian itu, aksi saling balas dendam terus terjadi hingga kini.

2. Diwariskan dari Generasi ke Generasi
Anggota suporter baik Viking maupun The Jak terdiri dari beberapa kelompok umur. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa ada di dalam kelompok suporter tersebut. Didasarkan oleh rasa fanatik yang terlalu besar biasanya suporter yang telah berkeluarga akan mewariskan spirit tersebut pada anaknya. Hal tersebut akhirnya membuat sang anak juga memiliki jiwa suporter seperti orang tuanya.

Selain itu, pihak suporter senior juga sering memberikan doktrin-doktrin termasuk bibit-bibit dendam kepada setiap anggota barunya. Hal inilah yang menyebabkan perseteruan kedua suporter tersebut tak kunjung usai. Lebih parahnya lagi, anak-anak di bawah umur yang masih belum stabil secara emosional sering kali terlibat dalam beberapa aksi kerusuhan yang melibatkan kedua suporter.

3. Media Sosial
Perseteruan kedua kubu tersebut semakin menjadi ketika munculnya media sosial saat ini. Tidak jarang oknum suporter memanfaatkan media sosial untuk saling mengolok-olok dan menjatuhkan. Meskipun belum terbukti menciptakan permusuhan, tetapi dalam beberapa kasus yang telah terjadi menunjukkan bahwa media sosial sering disalahgunakan oleh beberapa oknum suporter.

4. Atribut anti perdamaian
Faktor terakhir yang dianggap membuat perseteruan kedua kelompok suporter tak kunjung usai adalah adanya atribut provokatif yang dibuat oleh beberapa oknum suporter. Tidak sedikit atribut bernada kebencian terpampang di baju ataupun syal suporter. Lebih parahnya lagi, banyak suporter yang malah merasa bangga ketika mengenakan atribut tersebut karena dinilai sebagai bentuk solidaritas pada rekannya.

Padahal, atribut klub seharusnya digunakan sebagai identitas dan juga menjadi alat untuk memberikan dukungan moral kepada para pemain judi pulsa online di lapangan. Penggunaan atribut provokatif oleh suporter bukan tidak mungkin dapat memicu badan sepak bola tertinggi Indonesia untuk mengeluarkan larangan menggunakan atribut. Tentu hal tersebut dapat menjadi kerugian baik bagi suporter maupun pihak klub yang didukungnya.

Suporter merupakan elemen penting dalam kemajuan sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya perseteruan antar suporter haruslah dimusnahkan dari dunia sepak bola Indonesia. Hal tersebut tidak lain demi kemajuan sepak bola di masa yang akan datang. Jika hal tersebut tidak segera dilakukan, jangan pernah berharap Indonesia dapat berbicara banyak di kancah persepakbolaan Internasional.