Hamilton Menuju Juara Dunia Setelah Menang Di GP Meksiko

Hamilton

Gelar Juara Dunia F1 2019 semakin dekat menjadi milik Lewis Hamilton. Pembalap asal Inggris itu berhasil memperbesar peluangnya menjadi Juara Dunia F1 setelah meraih kemenangan di GP Meksiko.

GP Meksiko yang berlangsung pada hari Senin (28/10/2019) dini hari WIB di Autodromo Hermanos Rodriguez, Hamilton bahkan memulai balapan dengan posisi yang kurang meyakinkan.

Setelah start balapan dirinya sempat bersengolan dengan Max Verstappen dan terpaksa harus turun ke posisi kelima. Sedangkan Dua pembalap Ferrari yaitu Charles Leclerc dan Sebastian Vettel berhasil memimpin di posisi terdepan.

lewis-hamilton

Leclerc menguasai posisi terdepan sampai ketika dirinya memasuki pit stop di lap ke-16 sekaligus membuat posisi pembalap menjadi berubah dengan Vettel di depan dan diikuti oleh duo pembalap Mercedes, Hamilton dan Bottas.

Hamilton sempat turun ke posisi empat setelah memutuskan masuk pit stop di lap ke-29 sedangkan Vettel tetap bertahan dan baru mulai masuk pit stop ketika balapan lap ke -37.

Leclerc juga harus masuk ke pit stop di balapan lap ke-43 setelah sempat kembali memimpin balapan. Dengan masuknya Leclerc ke pitstop, Hamilton berhasil mengambil alih posisi terdepan balapan setelah di lap ke-45.

Berada di posisi terdepan, Hamilton tetap mampu mempertahankan posisi walaupun sempat mendapatkan perlawanan sengit dari Sebastian Vettel. Bahkan sampai balapan lap terakhir jarak antara Hamilton dengan Vettel hanya terpaut 1,7 detik saja.

GP Meksiko

Untuk posisi ketiga ditempati oleh rekan Hamilton yaitu Valtteri Bottas, sedangkan Leclerc harus puas di posisi keempat diikuti oleh ALexander Albon.

Finis di posisi pertama, Hamilton berhak mendapatkan tambahan 25 poin sekaligus memantapkan posisinya di puncak klasemen dengan total raihjan 363 poin dari total 10 kemenangan di musim ini. Posisi Hamilton masih unggul 74 poin dari Bottas yang menempati posisi kedua lewat total raihan 289 poin,

Hamilton masih harus menunda pesta Juara Dunia F1 nya musim ini setidaknya sampai balapan selanjuta di GP Austin, Texas di pekan depan nanti.

FABIO QUARTARARO BUKAN ANCAMAN BAGI ROSSI

Pembalap Monster Energy Yamaha, Valentino Rossi, mengatakan Fabio Quartararo bukan sebuah ancaman besar untuknya pada perhelatan MotoGP San Marino di Sirkuit Misano, Minggu (15/9/2019).

Menurut Rossi, Quartararo masih belum cukup berpengalaman. “Saya tahu Fabio cepat, tapi saya tidak begitu memusingkan hal itu. Dia datang tanpa pengalaman dan itu membuat ia terkadang tidak begitu memikirkan apa yang dia lakukan.

Tapi, tetap saja, dia adalah rider yang berbakat,” ujar Valentino Rossi, seperti dikutip dari Tuttomotoriweb, Jumat (13/9/2019). Komentar Valentino Rossi perihal Fabio Quartararo itu tak sepenuhnya salah.

Seperti diketahui, rider Petronas Yamaha SRT itu baru memulai kiprahnya di MotoGP musim 2019. Rookie asal Prancis itu bahkan hanya memasang target minimalis pada musim ini.
El Diablo mengatakan ia cukup bahagia jika nantinya hanya finis di posisi delapan klasemen akhir.

Meski demikian, peformanya bersama tim satelite Petronas Yamaha SRT begitu mengejutkan.
Dari 12 seri MotoGP yang telah dilalui, rider berusia 20 tahun itu tercatat sudah tiga kali naik podium, yakni di Catalunya, Belanda, dan Austria.

Beberapa pakar meyakini Fabio Quartararo berpotensi menggeser dominasi Marc Marquez pada perhelatan MotoGP 2020. Namun, hal tersebut tak menyurutkan nyali Valentino Rossi. Bagi The Doctor, performa juniornya itu tak akan memberikan banyak ancaman, khususnya di San Marino.

Juara Konstruktor F1 2019 Dipersembahkan Mercedes Untuk Niki Lauda

Mercedes

Mercedes memastikan dirinya meraih gelar juara konstruktor Formula 1 musim ini sekaligus untuk yang kenema kalinya setelah Valterri Bottas tampil bagus dalam balapan Formula 1 GP Jepang. Bos dari Tim Mercedes mengatakan gelar juara tersebut dipersembahkan untuk sosok Niki Lauda.

GP Jepang yang berlangsung pada hari Minggu (13/10/2019) di Sirkuit Suzuka dimenangkan oleh Bottas selain itu juga driver Mercedes lainnya Lewis Hamilton juga berhasil naik podium di peringkat ketiga. Kesuksesan dari Bottas dan Hamilton sekaligus mengunci posisi gelar juara Konstruktor musim ini menjadi milik Mercedes.

Pencapaian tersebut sudah membuat Mercedes mencatatkan meraih gelar juara Konstruktor untuk enam musim beruntun sekaligus juga menyamai rekor yang selama ini dipegang oleh Ferrari pada musim 1999-2004.

niki lauda

Performa gemilang Ti Mercedes di Balapan Formula 1 musim ini dipersembahkan untuk sosok Lauda. Niki Lauda merupakan juara Dunia tiga Kali sekaligus pernah menjadi nonexecutife chairman Mercedes sejak dari 2012. Sayangnya Lauda sendiri sudah meninggal pada Mei 2019. Niki Lauda dinilai sangat banyak memberikan kontribusi besar untuk kesuksesan Mercedes sampai saat ini.

“Kami mendedikasikan ini kepada Niki, karena dia merupakan bagian penting sejak perjalanan awal tim ini,” kata Toto WOlf, team principal Mercedes seperti dikutip Cjrnews

“Kehadirannya selalu berharga dalam setiap dukungan dan tekanan yang ada. Dia adalah sosok yang sanngat spesial,” dia menambahkan.

“Ketika kami memulai perjalanan enam atau tujuh tahun lalu, kami ingin lebih rutin menjadi juara tiap race dan berjuang untuk menjadi juara dunia. Lantas, enam tahun kemudian kami menjadi juara enam kali beruntun,” kata dia.

Faktor Lionel Messi Gagal Bersama Argentina

Apes, mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan kondisi Lionel Messi saat ini. Tampil begitu superior bersama Club Barcelona, nyatanya tidak serta-merta membuat Messi mampu merebut gelar juara bersama tim Argentina. Yang terbaru, Lionel Messi dan kawan-kawan hanya mampu meraih posisi ketiga pada gelaran Copa America 2019 yang diselenggarakan di Brasil.

Hasil tersebut tentu menambah panjang derita Lionel Messi ketika berseragam tim berjuluk Albiceleste itu. Pada gelaran turnamen sebelumnya, Lionel Messi sebenarnya berpeluang memecahkan rekor buruk tersebut dengan mampu menembus babak final Piala Dunia 2014 dan dua kali masuk final Copa America. Namun, Messi lagi-lagi harus tertunduk lesu karena meraih hasil minor pada semua laga tersebut.

Faktor Lionel Messi Gagal di Timnas Argentina

1. Skema Permainan
Tentu bukan hal yang aneh jika setiap tim punya skema tersendiri dalam bermain sepak bola. Namun, terkadang perbedaan skema dapat mempengaruhi performa seorang pemain sepak bola. Ada pemain yang tampil bagus dengan skema baru dan ada juga yang malah gagal bersinar. Hal tersebutlah yang mungkin dialami oleh mega bintang sekelas Lionel Messi di Barcelona dan Argentina.
Messi yang sejak kecil telah berbaju Barcelona tentu sudah sangat nyaman dan hafal dengan skema yang diterapkan oleh tim. Skema umpan pendek, penguasaan bola kuat, dan bermain dari kaki ke kaki merupakan skema khas tim asal Catalan tersebut. Namun, hal tersebut tidak ditemui Messi ketika bermain di tim Argentina dari mulai dilatih Maradona sampai dengan dilatih oleh Lionel Scaloni.

2. Kurangnya Dukungan Lini Kedua
Selama berbaju Barcelona, Lionel Messi selalu ditemani oleh para gelandang yang berkualitas. Pemain seperti Deco, Xavi Hernandez, Ivan Rakitic, dan Andreas Iniesta selalu setia mendukung pergerakan yang dilakukan oleh Messi. Dengan dukungan pemain hebat tersebut, Messi mampu bermain sesuai dengan skema yang Ia inginkan.

Namun, hal tersebut tidak Ia dapatkan di tim Argentina. Sosok-sosok gelandang kuat dan kreatif rasanya sulit ditemukan di tim Argentina saat ini. Tidak ada lagi pemain sekelas Riquelme, Veron, dan Pablo Aimar yang menghiasi lini tengah Argentina. Kini lini tengah Argentina hanya diisi oleh pemain dengan kelas medioker yang bahkan di klubnya saja tidak mendapatkan posisi utama.


3. Pelatih
Salah satu hal lain yang dijadikan kambing hitam atas performa buruk Argentina adalah pelatih. Beberapa nama tenar pernah menghiasi kursi pelatih tim Argentina seperti Jorge Sampaioli, Maradona, dan kini Lionel Scaloni. Meskipun telah berganti-ganti pelatih, nyatanya permainan deposit judi pulsa online tidak kunjung membaik.

Nama-nama pelatih tersebut dianggap belum mumpuni untuk melatih tim sekelas Argentina. Bahkan, muncul anggapan bahwa para pelatih tersebut tidak mampu memenuhi keinginan komposisi pemain seperti yang diinginkan oleh Lionel Messi. Tidak mengherankan pada masa kepelatihan Sampaoli dan Scaloni, Lionel Messi hanya mampu mencetak 13 gol di semua ajang yang Ia mainkan bersama Argentina.

4. Tekanan Suporter Argentina
Faktor berikutnya yang membuat Messi tampil buruk di Timnas Argentina adalah suporter. Bukan hal yang asing lagi melihat Messi sering kali dikritik oleh fans Argentina sendiri. Hal tersebut tidak lepas dari image pemain terbaik dunia yang disematkan padanya sehingga para suporter menjadikan Lionel Messi sebagai tumpuan di Argentina.


Namun, tekanan yang terlalu besar dari suporter sedikit banyak mengganggu performa Messi di lapangan. Keadaan menjadi lebih buruk ketika Lionel Messi gagal mempersembahkan gelar juara untuk Argentina. Hal tersebutlah yang sempat membuat Messi menyatakan pensiun dari tim Argentina beberapa tahun yang lalu. Namun, pada akhirnya Messi kembali memperkuat Argentina beberapa tahun kemudian.

Terlepas dari performa buruknya di Timnas Argentina, dapat disepakati bahwa Lionel Messi merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah ada di jagat sepak bola dunia. Namun, sepertinya Lionel Messi masih akan terus berusaha untuk mempersembahkan gelar untuk tim Argentina. Di usianya yang sudah 33 tahun, Piala Dunia 2022 merupakan ajang akbar terakhir bagi Lionel Messi untuk mempersembahkan trofi untuk Argentina.